kamu, aku

Orang yang belum selesai dengan hatinya sendiri, tidak akan bisa mencintai dan dicintai.

Kalau kamu cukup sabar. Dukung dia dengan penuh kasih sayang. Kalau tidak jangan paksa dia untuk memutuskan.

Salah satu pelajaran penting di penghujung tahun ini.

Semoga kamu selalu bahagia, tercerahkan, dan menemukan kedamaian.

(Semarang)

Menjelang Tahun Baru

Aku rindu ketika kita bisa berbincang tentang apa saja. Tapi waktumu mungkin tak lagi buatku. Atau hanya aku yang merasa?

Bukan, ini bukan tentang cinta. Bukan juga tentang kita yang belum mengada. Ini sekedar urusan hati. Hati yang belum pernah benar-benar bisa berjanji.

Ini tentang aku, kamu, dan ruang yang terbatas waktu.

Juga tentang ragu yang terbelenggu dan jeda yang mulai nyata.

(Semarang)

Pelajaran Bulan Kedelapan

Bulan kedelapan.

Sore ini aku duduk lama di sebuah warung tenda pinggir jalan. Aku tidak sendiri, ada empat orang kawan lain bersamaku. Kami makan dan ngobrol seperti biasa. Sepertinya kami lupa bahwa baru delapan bulan lalu kami sampai di kota ini. Alhamdulillah, tidak ada satupun diantara kami berlima yang menyesali keputusan untuk datang ke kota ini. Meski awalnya benak kami dipenuhi dengan banyak keraguan. Tapi ternyata satu demi satu keraguan itu terjawab dan disinilah kami sekarang. Saling berceloteh tentang kisah sehari-hari. Tidak ada yang berusaha mengingat susahnya kami menyesuaikan diri ketika pertama kali tiba disini.

Barangkali move on itu seperti itu. Susah di awal tapi ya sudahlah kemudian. Mungkin hidup memang harus dijalani seperti itu. Mengeluhlah, menangislah, tapi jangan pernah mencoba untuk berhenti. Lelah, pasti. Jenuh, ya iyalah. Tapi jangan pernah menghitung-hitung berapa lama waktu yang bakal dijalani. Karena toh akhirnya semua itu bakal terlewati. Suka atau tidak. Mau atau enggak.

Semoga dibulan kesembilan nanti, kami tetap bisa bergembira seperti hari ini. Amin.

(Semarang)

 

A Good Leader

Apa kriteria seorang leader yang baik itu? Beberapa buah pikiran dari para leader terdahulu menyebutkan bahwa seorang leader yang baik adalah yang dapat menciptakan leader lain. Good leader create more leaders.

Ada juga yang menyebutkan bahwa leader yang baik itu adalah leader yang tidak hanya mengembangkan dirinya tapi juga mengembangkan orang lain. Good leader develops others.

Seorang leader yang baik juga disebutkan memiliki kecenderungan bekerja bersama sama dengan tim yang dipimpinnya. Leader bukan bos. Leader says let’s go not just “go”

Tapi sungguh tidak mudah menjadi seorang leader yang baik. Seorang Rhenald Khasali menuliskan bahwa seorang leader harus memiliki jiwa “driver” bukan sekedar “passanger”. Seorang driver tidak boleh tertidur, harus selalu waspada, mencari alternatif jalan agar para penumpangnya sampai tujuan dengan cepat dan selamat. Sedangkan menjadi selalu waspada itu bukan hal yang mudah karena kita selalu memiliki kecenderungan untuk ada di zona nyaman.

Tapi menjadi leader yang baik itu bukan tidak mungkin. Practice make perfect dan harus mau mendengar apa yang orang lain katakan. Banyak mendengarkan, banyak belajar. Mawas diri.

Semarang

#LoveLearnLife

Komentar

Investasi paling Penting

Percaya tidak sih dengan yang namanya “insight”? maksudku beberapa hal yang muncul berurutan dan memberikan kita petunjuk atau pemikiran tentang sesuatu hal.

Seperti pagi ini ketika aku mampir ke tukang bubur di depan sebuah rumah sakit. Masih pagi padahal, tapi aku melihat banyak orang sudah bersiap untuk antri di dekat loket pendaftaran pasien. Tiba tiba melihat diri sendiri dan merasa betapa beruntungnya diberi kesehatan.

Lalu sesampainya di rumah, ketika aku scrolling update-update di Twitter, entah kenapa tertarik dengan link artikel yang judulnya “Lima Investasi Penting”. Aku pun membuka link tadi dan membacanya. Di nomor empat aku menemukan kata “Kesehatan”. Artikel itu menuliskan bahwa kita harus menyayangi diri sendiri dengan cara hidup sehat dan seimbang.

Hmmm, jadi “insight” hari ini adalah tentang kesehatan. Lalu aku ingat sudah berbulan-bulan ini tidak melakukan olahraga apapun. Tidak memasang target untuk pencapaian dalam hal olah fisik apapun seperti dulu misalnya, dalam seminggu aku harus berenang dua kali atau harus ikut Yoga dan Pilates masing-masing seminggu sekali. Belum lagi membiarkan semua makanan yang tidak sehat masuk ke tubuh. Aku jadi sadar betapa bulan-bulan ini aku sudah mengabaikan tubuhku. Huhuuu…

Semarang.
#LoveLearnLive

Monday Mourning

Senin pagi dengan sebuah kabar tidak enak. Seorang kawan lama telah berpulang. Betapa hidup itu memang begitu singkat. Seketika disergap rasa bersalah bahwa sampai saat ini masih sering banyak mengeluh tentang banyak hal. Apa artinya keluhan itu dibanding waktu yang cepat berlalu. Semua itu pasti sementara bukan?

Kupanjatkan seutas doa untukmu yang telah berpulang. Terima kasih untuk pertemanan selama ini. Semoga dilapangkan semuanya dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan.

Berkunjung ke Klinik Kopi

Sebenarnya kopi adalah pilihan terakhirku setelah teh, juice, air putih, dan susu. Bukan soal rasa pahit tapi lebih ke rasa asam yang tertinggal setelah meneguk kopi. Pernah mencoba belajar ngopi dengan mencicipi kopi dengan berbagai macam jenis penyajian dari mulai kopi tubruk, espresso, es kopi, sampai yang versi nge-hits seperti cappuccino cincau tapi tetap tidak bisa berdamai dengan rasa asam yang memenuhi mulut seusai meminum kopi.

Namun entah kenapa sore ini tiba-tiba muncul keinginan untuk “iseng” mencoba kopi di sebuah tempat minum kopi yang konon adalah tempat terbaik di kota ini untuk menikmati beberapa jenis kopi lokal, namanya Klinik Kopi. Tempatnya tidak begitu jauh dari jalan raya, hanya satu kali belokan saja sudah sampai. Tempat minum kopi ini adalah sebuah rumah panggung yang di sekelilingnya dipenuhi pepohonan kayu yang cukup menjulang tinggi. Terlihat seperti pondok kecil di tengah hutan bagiku. Di dalam rumah panggung itu tidak ada apa-apa selain meja tempat meracik kopi yang diatasnya ada beberapa toples berisi biji-biji kopi. Biji-biji kopi itu tidak semua berwarna cokelat. Ada yang berwarna hitam pekat, bahkan ada yang berwarna abu-abu muda.

Aku kemudian mengambil antrian tempat duduk di depan meja berisi toples-toples berisi kopi tadi dan mulai berpikir kopi apa yang akan aku minum ya? Sampai ketika tiba giliranku memilih aku masih belum memutuskan. Olala..kelihatan sekali bahwa aku ini seorang peminum kopi jadi-jadian. Tapi begitu terucap sebuah pengakuan bahwa aku ini seorang peminum kopi yang “hampir” ala kadarnya maka dibuatkanlah jenis kopi yang paling ringan dari semua jenis kopi yang ada di ruangan itu. Namanya kalau tidak salah kopi “Air Dingin”.

Tidak lama kemudian segelas kopi berisi kopi “Air Dingin” sudah ada ditangan. Sensasi yang pertama kali muncul adalah aroma kopi yang mencuat dan menyegarkan indra penciuman. Oiya, jangan berpikir ada sachet berisi gula pasir atau krimer disini ya..semua minuman kopi di tempat ini disajikan tanpa gula. Ya, hanya segelas kopi tanpa embel-embel apapun. Kopi untuk kopi itu sendiri, tidak untuk mmm.. gaya hidup seperti yang mungkin dilakukan beberapa orang dengan segelas kopi mahal dengan banyak pernak-pernik cantik yang kadang justru menenggelamkan rasa asli kopi itu sendiri.

Aku pun mencecap seteguk demi seteguk kopi “Air Dingin” tadi sambil menikmati suasana sore di Klinik Kopi bersama beberapa teman yang kebetulan ikut serta. Rasa asamnya memang jadi lebih kuat tanpa gula apalagi jika kopinya sudah dingin. Tapi selain rasa asam, cara meminum “kopi untuk kopi” ini membuatku bisa mencecap rasa-rasa lain yang ikut menyembul dari sela-sela aroma kopi, yaitu “rasa” air embun yang turun pagi hari di kebun-kebun kopi, “rasa” hangat matahari yang sinarnya terpantul dari biji-biji kopi yang siap dipetik, dan juga “rasa” nyaman yang hadir seiring senyum para petani kopi ketika melihat hasil kebun kopinya yang melimpah.

Hmm….sebuah pengalaman minum kopi yang menyenangkan, terutama untuk aku yang tidak suka kopi. Mungkin besok-besok aku akan berkunjung ketempat ini lagi dan mencoba jenis-jenis kopi yang berbeda. Siapa tahu nanti aku mendapatkan pengalaman minum kopi yang berbeda juga dari apa yang kurasakan hari ini.

*Terima kasih untuk Egi yang sudah mengajak kesini.