Berkunjung ke Klinik Kopi

Sebenarnya kopi adalah pilihan terakhirku setelah teh, juice, air putih, dan susu. Bukan soal rasa pahit tapi lebih ke rasa asam yang tertinggal setelah meneguk kopi. Pernah mencoba belajar ngopi dengan mencicipi kopi dengan berbagai macam jenis penyajian dari mulai kopi tubruk, espresso, es kopi, sampai yang versi nge-hits seperti cappuccino cincau tapi tetap tidak bisa berdamai dengan rasa asam yang memenuhi mulut seusai meminum kopi.

Namun entah kenapa sore ini tiba-tiba muncul keinginan untuk “iseng” mencoba kopi di sebuah tempat minum kopi yang konon adalah tempat terbaik di kota ini untuk menikmati beberapa jenis kopi lokal, namanya Klinik Kopi. Tempatnya tidak begitu jauh dari jalan raya, hanya satu kali belokan saja sudah sampai. Tempat minum kopi ini adalah sebuah rumah panggung yang di sekelilingnya dipenuhi pepohonan kayu yang cukup menjulang tinggi. Terlihat seperti pondok kecil di tengah hutan bagiku. Di dalam rumah panggung itu tidak ada apa-apa selain meja tempat meracik kopi yang diatasnya ada beberapa toples berisi biji-biji kopi. Biji-biji kopi itu tidak semua berwarna cokelat. Ada yang berwarna hitam pekat, bahkan ada yang berwarna abu-abu muda.

Aku kemudian mengambil antrian tempat duduk di depan meja berisi toples-toples berisi kopi tadi dan mulai berpikir kopi apa yang akan aku minum ya? Sampai ketika tiba giliranku memilih aku masih belum memutuskan. Olala..kelihatan sekali bahwa aku ini seorang peminum kopi jadi-jadian. Tapi begitu terucap sebuah pengakuan bahwa aku ini seorang peminum kopi yang “hampir” ala kadarnya maka dibuatkanlah jenis kopi yang paling ringan dari semua jenis kopi yang ada di ruangan itu. Namanya kalau tidak salah kopi “Air Dingin”.

Tidak lama kemudian segelas kopi berisi kopi “Air Dingin” sudah ada ditangan. Sensasi yang pertama kali muncul adalah aroma kopi yang mencuat dan menyegarkan indra penciuman. Oiya, jangan berpikir ada sachet berisi gula pasir atau krimer disini ya..semua minuman kopi di tempat ini disajikan tanpa gula. Ya, hanya segelas kopi tanpa embel-embel apapun. Kopi untuk kopi itu sendiri, tidak untuk mmm.. gaya hidup seperti yang mungkin dilakukan beberapa orang dengan segelas kopi mahal dengan banyak pernak-pernik cantik yang kadang justru menenggelamkan rasa asli kopi itu sendiri.

Aku pun mencecap seteguk demi seteguk kopi “Air Dingin” tadi sambil menikmati suasana sore di Klinik Kopi bersama beberapa teman yang kebetulan ikut serta. Rasa asamnya memang jadi lebih kuat tanpa gula apalagi jika kopinya sudah dingin. Tapi selain rasa asam, cara meminum “kopi untuk kopi” ini membuatku bisa mencecap rasa-rasa lain yang ikut menyembul dari sela-sela aroma kopi, yaitu “rasa” air embun yang turun pagi hari di kebun-kebun kopi, “rasa” hangat matahari yang sinarnya terpantul dari biji-biji kopi yang siap dipetik, dan juga “rasa” nyaman yang hadir seiring senyum para petani kopi ketika melihat hasil kebun kopinya yang melimpah.

Hmm….sebuah pengalaman minum kopi yang menyenangkan, terutama untuk aku yang tidak suka kopi. Mungkin besok-besok aku akan berkunjung ketempat ini lagi dan mencoba jenis-jenis kopi yang berbeda. Siapa tahu nanti aku mendapatkan pengalaman minum kopi yang berbeda juga dari apa yang kurasakan hari ini.

*Terima kasih untuk Egi yang sudah mengajak kesini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s