1 Januari 2015

Sebenarnya apa yang orang-orang rayakan di malam pergantian tahun baru? Jika memang benar merayakan angka yang berganti bukankah itu memang sudah terjadi setiap hari?

Mungkinkah yang sebenarnya orang-orang rayakan adalah sebuah kesempatan satu tahun sekali untuk mengganti hidup yang dulu dengan yang baru, meskipun ya.. antara yang dulu dan yang baru itu agak susah juga untuk dicari jelas ujung pangkalnya.

Lalu mengapa kembang api dijadikan sebagai penanda di akhir malam tahun baru? Benda yang meledak sambil memendarkan cahaya dan setelah itu hanya menyisakan kesunyian dan asap langu serbuk mesiu?

Oiya, aku lupa bahwa kadang manusia hanya merasa harus merayakan sesuatu. Merasakan kebersamaan dengan sesamanya agar menjadi bagian yang satu di bumi yang terus berputar ini.

Lalu semua seperti sederhana dan berjalan seperti apa adanya.

AKU, KAMU DAN INTERNET

internet frus

Gadget dan internet telah menjadi bagian hidup sehari hari. Bayangkan pergi dari rumah tanpa membawa serta smartphone. Bayangkan harus menunggu di suatu tempat sendirian dan sinyal di layar smartphone kita hanya muncul huruf “G” atau bahkan tanda “X”. Bayangkan listrik mati, batere ponsel hampir habis, dan jaringan internet down. Bayangkan bangun pagi dan menemukan bahwa ponsel yang tadinya ada disamping tempat tidur hilang entah kemana. Sungguh, apa yang bisa dilakukan manusia saat ini tanpa teknologi internet dan perangkat gadget?

Kemarin lusa saya membaca sebuah tulisan menarik tentang gangguan kecemasan yang muncul karena putusnya jaringan internet pada suatu waktu. Gejalanya adalah munculnya beberapa emosi negatif seperti rasa takut, marah, frustasi, putus asa, dan stress fisik. Berita buruknya, ganguan ini bisa dialami dari mulai CEO yang terbiasa bekerja dalam budaya 24/7 ( dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu) sampai ibu rumah tangga biasa.

Ingatan saya melayang pada suatu waktu ketika saya masih aktif menjadi call center sebuah provider telekomunikasi di tempat saya bekerja. Saya sering menerima hard complaint dari para pelanggan yang mengeluh hanya karena tidak bisa mengirim pesan melalui Blackberry Messenger (BBM)ataupun hanya gara-gara tidak bisa mengupdate status via aplikasi jejaring sosial Facebook. Sebuah keluhan yang tidak bisa saya pahami pada saat itu karena bagi saya pesan BBM masih bisa disubstitusi dengan sms atau telepon dan kita tidak akan mati jika tidak bisa update status via Facebook bukan?

Tapi ternyata saya salah. Permasalahannya tidak sesederhana itu. Segala macam emosi negatif yang muncul akibat terputusnya hubungan manusia dengan teknologi internet dan gadget ternyata sebuah indikasi dari beberapa gejala psikologi sosial lain yang jauh lebih kompleks. Misalnya saja tentang berubahnya pandangan manusia tentang norma-norma dalam berkomunikasi. Contoh sederhananya seperti ini. Sebelum ada internet, tepatnya ketika surat menyurat via pos masih menjadi cara berkomunikasi yang lazim, tidak apa-apa tentunya jika menunggu dua tiga hari atau bahkan satu minggu untuk mendapatkan balasan surat. Bandingkan dengan sekarang. Kita tentu dianggap tidak sopan jika tidak segera merespon pesan via BBM atau aplikasi chatting yang lain sesegera mungkin dalam hitungan menit. Jadi kecemasan atau rasa frustasi yang muncul karena tidak bisa mengirim pesan melalui aplikasi BBM atau aplikasi chatting lainnya akibat putusnya hubungan jaringan internet sungguh sangat bisa dipahami.

Contoh diatas adalah sekelumit penjelasan yang semoga bisa membantu memahami perilaku manusia ditengah pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan jaringan internet. Jadi sekarang saya sungguh tidak akan pernah memandang sebelah mata pada mereka yang mengeluh karena tiba-tiba tidak bisa mengirim pesan BBM atau whats app, atau aplikasi lainnya. Hey tunggu.. bahkan seorang Rangga pun merasa sangat gelisah ketika Cinta tidak kunjung membalas pesan Line nya bukan…?

Bercermin

Hari-hari ini aku sering bercermin. Mematut-matut bayangan diriku yang terpantul dari dalam kaca. Tidak ada istimewa, masih aku yang sama. Tapi aku selalu merasa mengapa yang tampak tidak seperti apa yang ada.

Beberapa jam lalu hujan turun menyisakan genangan-genangan air di jalanan aspal. Aku pun berjalan pelan membelah malam, melihat-lihat kembali pantulan diriku yang dipantulkan oleh cahaya lampu temaram. Masih tidak ada yang istimewa. tapi aku merasa ada sesuatu yang terlihat tidak sama dengan yang sebenarnya.

Pagi ini aku terbangun oleh burung burung pagi yang berkicau renyah. Aku mencoba bercermin dan kulihat kembali ada bias yang belum terlepas antara jiwa dan yang kasat mata. Begitu berbeda tetapi kenapa hanya aku yang merasa?

-Jogja-

Babak Baru

Image

Kadangkala hidup seperti serangkaian penantian panjang yang menanti pintu terbuka untuk membawa raga ke ‘dunia lain’ yang benar-benar  berbeda dari dunia yang sekarang.

Seperti ketika hati selalu putus asa dan terlalu amat sangat lelah untuk bertanya kapan? kapan? dan kapan?

Bukankah hidup ini layaknya menyelesaikan sebuah permainan?

Jadi jangan pernah merasa takut untuk terus berjalan ketika semua terasa gelap dan padat. Sempit dan menghimpit.

Berpegang eratlah bersama asa. Bersandarlah pada doa.

Lalu nanti kan tiba pada suatu hari dimana setiap lelah akan terbayar,

Hari ketika cahaya berbisik pelan pada jiwa yang sudah payah mengembara

dan berkata,

“Sudah saatnya….”

 

 

-Jogja-

Jogja itu…

image

Jogja itu..Perempatan tugu, keselatan sedikit, Malioboro belok kiri, lalu teruuuuus aja sampai ketemu perempatan kedua, ambil kiri, nanti ketemu jembatan layang, tapi lewat bawah jembatannya, yapp! Disitu, di deket rel kereta, tunggu sampai sedikit sore, ada ibu ibu penjual sate madura. Waktu itu kita pernah makan berdua disitu. Melintasi sore paling indah diantara dera suara kereta Jakarta – Surabaya.

Jogja itu… Jalan gejayan, cari kuburan sebelah kanan dari arah selatan terus tengok ke seberang jalan ada pintas ke arah jalan kaliurang. Berhenti di depan warung susu segar. Yapp!! Stop dulu, duluuu sekali, berdua kita pernah saling menatap dan berucap amarah, diantara desau pelan angin malam musim penghujan yang gerah

Jogja itu …. Sepanjang ruas jalan sudirman, lalu melaju pelan, perlahan seperti ketika aku dan kamu berbincang tentang harapan sambil bergandengan tangan menikmati senja temaram yang penuh kedamaian.

Jogja itu… terhenti di jalan Solo, di dekat menara pemancar radio. Dimana kita akhirnya menyerah pada rasio ‘Aku dan kamu’ dalam untai lirik Sepatu, sepasang yang bersama tak bisa bersatu.

Jogja itu…Aku. Jogja itu…Kamu. sementara Kita hanyalah utopia.

#ngabsurdjogja

Kasih Sepanjang Masa

image

Setiap melewati deretan toko bunga itu aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar melirik deretan bunga-bunga cantik yang ditata rapi menurut jenis dan warnanya. Ada juga bunga-bunga yang sudah dirangkai dalam bentuk buket yang indah. Tapi entah, aku tidak pernah benar-benar memutuskan untuk berhenti di salah satu toko dan memilih salah satu buket itu. Pikirku, suatu saat nanti pasti akan kupilih salah satu buket yang paling sederhana sekaligus yang paling cantik untuk ibuku. Ibu pasti akan senang karena sejak dulu Ibu selalu berangan angan akan membuat sebuah taman kecil di pekarangan rumah yang ditumbuhi bunga warna-warni.

Sekarang aku sangat menyesal kenapa aku tidak segera memutuskan untuk membeli salah satu dari buket-buket bunga itu untuk kuberikan kepada Ibu. Setiya aku masih bisa melihat ekspresi Ibu yag biasanya muncul setiap kali hatinya sedang bahagia. Sekarang aku hanya bisa meletakkan buket bunga itu diatas sebuah nisan dingin diantara pepohonan makam yang terdiam.

Hari ini tepat sembilan puluh dua hari setelah Ibu pergi sekaligus hari Ibu pertama tanpa Ibu. Tidak bermaksud mengulang-ulang kesedihan. Hanya ingin menulis sesuatu yang harusnya terus diingat-ingat, sebentuk kasih yang hanya bisa diberikan oleh Ibu, kasih sepanjang masa. Istirahat yang tenang ya Ibu,selalu kukenang-kukenang kasih sepanjang masa yang telah Ibu berikan. Kasih yang kelak juga akan kuberikan utuh untuk cucumu tercinta jika waktunya kan tiba.

Jogja, Hari Ibu

Pesan Pagi Hari

image

Percaya nggak kalau di dunia ini tidak ada yang benar-benar menjadi awal begitu juga tidak ada yang benar-benar menjadi akhir…

Layaknya perjalanan malam dan siang, sebenarnya mereka hanya berloncatan dari satu titik koordinat ke titik koordinat lainnya di muka bumi ini.

Seperti juga titik batas cakrawala. Meskipun mata melaporkan hamparan air itu berakhir di satu batas, kita sebenarnya tahu bahwa dari titik yang kita kira akhir itu, muncul awalan cakrawala dari perspektif yang lain.

Seperti itu juga seharusnya kesabaran, tidak boleh berhenti karena semata-mata kita kira semua sudah mencapai titik nadirnya, karena apa yang kita kira nadir itu barangkali adalah sebuah awal ke sambungan nadir yang lainnya.

Seperti juga seharusnya dengan harapan, senantiasa berusaha melihat awal yang baru meskipun jalan buntu seperti telah nampak di pandangan, siapa tau sesuatu yang dikira akhir ternyata justru sebuah awal dari yang lain yang jauh lebih luar biasa.

-Jogja-